Thursday, 30 June 2011

Family Education of Sex

"Aaahh.. hh.. huh enaknya ya Mam, rasanya kalau sudah keluar nich," begitu kata Tony seorang bapak berumur 45 tahun, bapak dari dua orang anak kepada istrinya Dewi, ibu berumur 38 tahun.

"Iya nich Pap, Mama juga rasanya masih lemes, abis Papa mainnya kok masih kuat aja, masa udah hampir satu jam tidak keluar-keluar."

"Iya tapi Mama kan juga kuat melayani Papa," ujar Tony.
"Ah Papa bisa aja nich ngerayu Mama.."

Akhirnya setelah mereka bermain cinta selama hampir dua jam Tony dan istrinya sama-sama terdiam untuk mengumpulkan energi mereka yang telah terkuras dan masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Akhirnya Tony mulai membuka percakapan sambil memeluk tubuh telanjang istrinya,

"Mam tidak terasa ya kita sudah menikah selama dua puluh tahun dan telah dikaruniai dua orang anak si Anton dan Intan, rasanya baru kemarin mereka kita timang-timang sekarang kok taunya si Anton sudah kelas 1 SMA (17 tahun) dan Intan sudah kelas 2 SMP (15 tahun), dan mereka pintar-pintar lagi".

"Iya-ya Pap, memang tidak terasa ya, tapi menurut Papa untuk urusan seks apakah mereka sudah cukup tau nggak ya? Soalnya mama takut mereka mendapat informasi yang salah tentang apa seks itu, menurut Papa bagaimana?" tanya Dewi kepada suaminya.

Lama Tony terdiam memikirkan perkataan istrinya tadi dan akhirnya dia berkata,
"Mam bagaimana kapan ada waktu yang tepat kita berempat berkumpul bersama untuk membahas masalah tersebut. Bagaimana Mam?"
"Hmm.. boleh juga, tapi.. bagaimana kalau sekarang aja Pap ini kan juga belum terlalu malam baru jam sepuluh dan lagian juga khan mereka besok tidak ada sekolah."
"Ya udah Papa bersihin 'burung' Papa dulu ya, rasanya lengket nih, sekalian ambil piyama dulu oke."
"Yaa, Papa nggak usah ambil piyama segala.. dibersihin aja tapi nggak usah pake piyama lagi!"
"Loh Mama gimana sih masa Papa telanjang gini?"
"Loh katanya mau diskusiin masalah seks, jadi sekalian ada contohnya gitu."
"Dan Papa jadi contohnya?" kata Tony kebingungan.
"Lah iya , nanti kalo giliran Papa yang ngajarin nanti gantian Mama yang jadi contohnya, gimana oke!"
"Tapi Mama yakin ini tidak apa-apa?"
"Iya.." kata Dewi tidak sabar, "Udah deh Papa abis cuci 'burungnya' Papa, Papa tunggu di sini ya dan jangan pake apa-apa lagi ya, Mama mau keluar manggil Anton dan Intan."

Setelah berkata demikian Dewi dengan hanya mengenakan daster tipisnya, (tipis di sini coba dibayangkan bagian dada dan bagian vitalnya hanya tertutupi oleh hiasan renda-renda di dasternya tersebut dan tingginya hanya sejengkal dari lutut), langsung keluar untuk memanggil anak-anak mereka.
"Anton!! Intan!! coba kalian ke sini sebentar!" panggil Dewi dari lantai atas.

"Ya Mam, ada apaan sih Mam?" kata Anton dan Dewi.
"Gini mulai malam ini kalian tidur di atas ya, sama Papa dan Mama!"
"Loh kok tumben Mam, emangnya adapan sich lagian tempat tidurnya muat apa?" kata Anton bertanya.
"Iya nih Mama ada-ada aja," sambung Intan.
"Nggak.. mulai malam ini Papa dan Mama ada yang mau diomongin bersama kalian jadi kita ngomong-ngomong sebelum tidur gitu. Udah deh sekarang kalian ke kamar aja, Papamu udah nungguin tuh!" kata Dewi dengan sabar kepada anak-anaknya.

Setelah itu Dewi dan anak-anaknya berjalan menuju ke kamar orang tuanya, dimana Tony telah menunggu istri dan anak-anaknya sambil berselimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Kemudian setelah mereka telah berkumpul di kamar yang luas itu sambil bersila di ujung ranjang kedua anaknya pun menanyakan ada apa karena tidak biasanya mereka disuruh tidur bersama orang tuanya mereka.

"Begini Anton, Intan.." kata Dewi memulai percakapan, "Kalian kan sudah besar, kamu Ton sudah kelas I dan sebentar lagi mau kelas II dan kamu Wi sudah kelas II dan tidak lama lagi kamu akan masuk ke SMA dan kamu tau khan pergaulan kayak sekarang gini, Papa dan Mama tidak mau kalau kalian terjerumus dengan pergaulan yang tidak-tidak. Hmm ngomong-ngomong Mama dan Papa pengen tau kalian udah punya pacar belum sih?"
"Kalau Anton sih belum punya Pap, nggak tau tuh kalau Dewi udah punya apa belum?"

"Kalau Dewi sama kayak Mas Anton belum punya juga."
"Ya udah kalau gitu Mama sekarang mau ngasih pelajaran mengenai seks kepada kalian oke."
"Sekarang Mam?" tanya Anton dan Dewi kebingungan.
"Iya sekarang, khan mumpung kalian masih libur, udah sekarang Ton coba kamu berbaring di samping Papamu and kamu Tan sini deketan sama Mama!"

"Sekarang Mama mau memberikan penjelasan mengenai bentuk anatomi seorang laki-laki, udah Pap buka dong selimutnya masa masih selimutan aja," kata Dewi kepada suaminya. Tony yang dari tadi hanya terdiam memperhatikan istrinya yang cantik itu memberikan penjelasan kepada anak-anaknya kemudian membuka selimutnya secara perlahan-lahan.
"Ih Papa kok telanjang sih?" ujar Intan terkejut.
"Iya nih Papa kok telanjang sih?" sambung Anton yang tidak kalah terkejutnya melihat papanya sendiri berbaring telanjang dengan batang kemaluannya yang masih kecil mengkerut dengan bulu kemaluan yang tidak terlalu lebat dan terpotong rapi (untuk soal itu Dewi cukup rajin merawat rambut suaminya yang satu ini).
"Loh kan Papa dan Mama mau ngasih pelajaran seks kepada kalian, gimana sih kalian ini," ujar Tony kepada kedua anaknya.
"Ayo Mam sekarang Mama yang ngasih pelajaran terlebih dahulu."
"Oke Pap," ujar Dewi kepada suaminya.

"Nah anak-anak coba kalian duduk di sini!" sambil menyuruh agar Anton duduk di samping kanan papa dan Dewi dan Intan sendiri duduk di sisi kiri papanya semetara itu Tony hanya berbaring setengah duduk saja di tengah-tengah ranjang dikelilingi istri dan anak-anaknya.
"Coba kalian perhatikan tubuh Papa kalian!" ucap Dewi kepada anak-anaknya, "Begini ini bentuk tubuh seorang laki-laki, buat kamu Ton ini bukan hal yang aneh tapi buat kamu Intan jangan merasa jijik atau ngerinya ini kan juga Papa sendiri oke!"
"Oke Mam!" ujar Intan.

Kemudian dengan secara perlahan Intan memperhatikan tubuh papanya yang walaupun sudah berumur badan papanya itu tetap berotot dan belum terlalu kendor. "Coba kamu Int ikuti Mama ya!" sambil berkata demikian Dewi mengelus dada suaminya secara perlahan kemudian Intan mengikuti gerakan mamanya mengelus dada papanya. Tony yang dadanya dielus-elus oleh dua tangan yang halus itu mulai merasa keenakan juga. Kemudian setelah cukup lama, perlahan-lahan tangan Dewi makin turun ke arah selangkangan suaminya bersama dengan tangannya Intan dan ketika sampai pada kemaluan suaminya Dewi berujar,
"Nah Intan ini yang namanya Penis."
"Oooh.." Intan hanya dapat berkata demkian.
"Dan kamu tau Intan, kalau kontol pria jika sedang bernfsu dapat membesar."
"Emangnya bisa Mam?" tanya Dewi dengan lugu.
"Ya bisa sayang. Coba kamu lihat Mama ya, nanti kamu coba sendiri."

Kemudian Dewi memegang batang kemaluan suaminya dengan lembut, kemudian secara perlahan dikocoknya penis suaminya itu.
"Aaah stt.. Mam hmm.." ucap Tony kepada istrinya ketika penisnya mulai dikocok-kocok dan makin lama ukuran penis Tony makin lama makin membesar (tapi belum menyampai ukuran maksimal).
"Eh iya.. Mam, Mama bener juga tu kontolnya Papa mulai gede tuh," kata Intan.
"Nah sekarang coba kamu ke sini Int.. sekarang kamu yang coba ya.."
"Tapi Mam, Intan nggak bisa.."
"Intan sini sayang nanti Papa yang kasi tau oke, sini sayang, biar Mamamu gantian yang ngajarin Anton, tuh Mam anakmu kasian dari tadi dia diamin aja," kata Tony kepada istrinya.
Anton yang dari sedari tadi melihat perbuatan mamanya itu hanya dapat terdiam dan sesekali menelan air ludahnya dan tanpa disadarinya penisnya pun mulai membesar.
"Ton panggil Dewi, coba kamu berbaring di samping Papamu!"
Anton pun tanpa berkata-kata berbaring sambil setengah duduk di sisi papanya. Kemudian Dewi pun bergeser di samping anaknya dan secara perlahan mulai menurunkan celana pendek anaknya itu.

"Wau.. Pap coba lihat punya anakmu ini, sampai tidak muat loh celana dalamnya," kata Dewi kepada suaminya dan kemudian dengan perlahan pula celana dalam Anton dibukanya pula.
"Ton kamu tenang aja ya kamu lihat, pelajari dan nikmatin saja apa yang Mama ajarin kepada kamu ya, kamu juga Intan kamu dengerin yang Papamu ajarin ya.."
"Ya Mam," jawab mereka berdua.
"Wah.. Ton punyamu tidak kalah sama Papamu yah.. tapi ini kok bulu jembutnya berantakan gini sih. Nanti kapan-kapan Mama cukurin ya."
Kemudian sama dengan suaminya, Dewi pun mulai mengocok penis anaknya secara perlahan-lahan.
"Ahh stt.. Mama kok enak banget sih Mam, ah.. ah aduh Mam stt.." ucap Anton ketika mamanya terus mengocok penisnya itu.
"Hmm.. stt kamu cepet pinter juga ya Int.." kata Tony memuji anaknya (walaupun masih kaku gerakannya).
"Nah gitu nak.. ngocoknya, aduh ahh.. jangan kenceng-kenceng dong megangnya!" kata Tony kepada putrinya, "Nah.. gitu stt.. hmm.. ya gitu baru bener. Sekarang coba kamu lebih cepet deh ngocoknya."
Intan pun mulai mempercepat kocokan tangannya di batang kemaluan papanya.
"Ah.. ah.. ah.." Tony hanya dapat menegangkan seluruh tubuhnya demi menahan rasa nikmat yang diberikan putrinya ditambah lagi dilihatnya istrinya masih sibuk mengocok penis putranya.

"Aduh.. stt Mam.. enak banget Mam!! aduh.. ah.. ah.. terus Mam.."
"Gimana yang enak nggak Mama kocokin?" tanya Dewi kepada putranya.
"Ii.. ii. iya Mam enak Mam.. stt.. akhh aduh Mam.. Mam.. Anton.. hmm.. udah dulu Mam Anton mau pipis dulu nih, udah nggak tahan Mam! Mam.. udah Mam!"
Dewi tanpa memperdulikan teriakan anaknya terus mengocok-ngocok penis anaknya dengan cepatnya.
"Udah Ton kalau kamu mau pipis, pipis di sini aja.." ucap Dewi sambil terengah-engah menahan birahinya yang dirasakan mulai meninggi itu dikarenakan melihat suami dan putra mengeliat-geliat keenakan dan semakin lama dirasakan penis anaknya makin membesar dan makin keras denyutannya dan tanpa disadari vaginanya pun mulai terasa lembab dikarenakan mulai merembesnya cairan yang keluar dari dalam vagina Dewi.
"Yaa.. Mama khaan malu Mam sama Papa dan Intan, masa di sini akhh.. Sih.. akh.. ahh.." protes Anton.
"Udah nggak apa-apa nanti Papamu juga kayak kamu," ujar Dewi dengan sabar.
"Bener nih Mam stt.. Ah.. ah.. akh.. Mam udah Mam.. ah.. hah.. hah.. akhh.."

"Crett.. creett.. crreet.." dan tanpa dapat ditahan lagi Anton mengeluarkan air maninya dengan derasnya kurang lebih empat sampai enam kali semburan mengalir dengan derasnya membasahi perut, dada, tangan mamanya, bahkan sampai sempat mengenai wajah Dewi dikarenakan kuatnya semburan maninya tersebut. Kemudian dengan penuh kasih sayang dibersihkan penis anaknya dengan handuk yang ada.
"Ahh Mam ngilu Mam," ujar Anton ketika kepala penisnya tersentuh oleh tangan mamanya.
Di dalam hati Dewi bergumam, "Ini anak udah keluar kok kontolnya masih tegak sih persis seperti papanya."
"Ih.. Papa, Mas Anton kenapa itu?" tanya Intan melihat kakaknya.
"Masmu itu namanya baru mengalami puncak kenikmatan," jawab Tony.
"Kok Papa kok belum kayak Mas Anton sih, khan Intan udah pegel nih ngocokin terus."
"Ya.. udah kamu istirahat dulu biar Mamamu yang gantiin, Mam sini coba kamu terusin kasian anakmu udah capek.."

"Hmm Papa nich.." sambil berkata demikian tangan Dewi mulai mengocok penis suaminya.
"Akhh.. akhh.. ah.. ah.. Mam rasanya kok kurang pas ya.. coba Mama pake mulut dong!" kata Tony.
"Intan, Anton kamu liat Mamamu ini ya.." kata Tony kepada anaknya.
"Loh Mam.. kok kontolnya Papa dimasukin ke mulut Mama sih, nggak jijik Mam?" tanya Intan.
"Ya nggak dong yang malah rasanya enak loh, nah kamu liat ya.."
Kemudian penis suaminya pun dilahapnya dengan penuh nafsu, dimainkannya penis suaminya dengan lidahnya di dalam mulut.
"Akhh.. stt.. hmm enak Mam.. Wau Mam.. enak ba.. nget Mam.." teriak Tony ketika penisnya mulai dikocok-kocok dengan mulut Dewi.
"Ahh dijepit dong Mam.. nah gitu terus Mam.." sambil terus meracau tangan Tonya mulai menaik-turunkan kepala istrinya dengan cepat seolah-olah dia sedang menyetubuhi mulut istrinya dan sepuluh menit kemudian, "Mam.. ahkkhhk Mam.. Papa mau keluar nich.. Mam stt.. stt.."
"Creett.. Crreet.. Crreett.." dan akhirnya tertumpahlah seluruh air mani itu di dalam mulut istrinya.

"Ah enak sekali Mam.. Nah Anton gimana kamu tadi rasanya enak nggak dikocokin sama Mamamu?"
"Enak banget Pap," jawab Anton sambil memperhatikan kelakuan orang tuanya ia terus mengelus-elus kepala penisnya.
"Oke Anton, Intan sekarang gantian Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian."
"Yap, sekarang Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian berdua, coba Mam kamu sekarang berbaring!"
Kemudian Dewi membaringkan tubuhnya yang masih ditutupi oleh gaun tidur di tengah tempat tidur sambil dikelilingi oleh anak-anaknya dan suaminya sendiri duduk di antara selangkangannya.
"Nah anak-anak coba kalian buka baju Mama kalian!" perintah Tony kepada kedua anaknya.
Secara perlahan-lahan kedua tangan anaknya menurunkan tali penahan baju ibunya dari bahunya hingga sebatas perut dan tampaklah kedua payudara ibunya yang besar dengan puting susunya yang mulai menonjol karena menahan birahi sedari tadi.
"Mam, coba kamu ajarin Anton ciuman, biar nanti kalo dia sudah punya pacar, dia sudah tau caranya."
"Sini sayang, Mama ajarin kamu ya.."


Kemudian ibu dan anak tersebut mulai saling bersentuhan bibir.
"Hmm buka mulutmu sayang dan keluarkan lidahmu biar Mama isap lidahmu, hmm.. hmm ya begitu.."
"Intan coba kamu raba susu Mamamu ya.."
"Ya Pap," kemudian tangan Intan mulai menyentuh dada mamanya.
"Aaakhh.. kamu lagi ngapain sayang?" tanya Dewi kaget karena tiba-tiba dadanya dielus-elus oleh putrinya.
"Hmm.. ya gitu sayang.. ough terus sayang.." kata Dewi memberi semangat kepada anaknya sambil dia terus berciuman dengan putranya.
"Hmm.. nah sayang sekarang gantian kamu yang Mama ajarin ya.. sini sayang," panggil Dewi kepada Intan.
"Dan kamu Ton coba kamu cium susunya Mama."

Sekarang gantian Dewi dan putrinya yang saling berciuman sambil perpelukan dan putranya menciumi susu Mamanya.
"Akhh.. hmm.." erang Dewi di sela-sela aktivitasnya dengan Intan dikarenakan nikmatnya susunya diemut-emut, disedot, dan dijilat oleh Anton berganti-gantian antara yang kiri dan kanan.
"Hmm.. ya! anak-anak coba berhenti dulu," kata Tony menyuruh kedua anaknya untuk berhenti.
"Kenapa Pap?" tanya mereka kebingungan.
"Coba kalian perhatikan ini," sambil berkata demikian Tony menurunkan gaun istrinya yang sudah acak-acakan sehingga akhirnya tubuh istrinya tidak tertutup dengan selembar benangpun.
"Ini tempat dimana dulu kalian lahir dan merupakan sumber dari segala kenikmatan," ujar Tony kepada kedua anaknya.
"Coba Mam kamu naikkan dan pegang kedua kakimu agar anak-anak dapat melihatn memekmu dengan jelas!" perintah Tony kepada istrinya.

Kemudian Anton dan adiknya berpindah posisi di samping papanya sambil melihat belahan vagina mamanya yang jelas terlihat dikarenakan diangkatnya kedua kaki mamanya hingga hampir menyentuh perut.
"Coba kalian lihat indah bukan milik Mamamu ini," kata Tony sambil menunjuk ke arah vagina istrinya.
"Sekarang Ton coba kamu sentuh punya Mamamu ini, pelan-pelan!"
"Aaakhhk.. esstt.." desis Dewi perlahan seiring vaginanya disentuh oleh putranya.
"Tu.. kan Ton kamu lihat Mamamu keenakkan disentuh punyanya."
"Pap, Intan boleh ikutan nggak?"
"Loh ya boleh dong sayang," kata Tony.
"Sini kamu duduk di samping kakakmu dan ikutin apa yang dia lakukan!"

Kemudian keduanya sibuk mengelus-elus vagina mamanya secara bersama-sama. Naik-turun membelah bibir vagina mamanya.
"Ahh.. ahh.. ahh.. aduh.. Pap anak-anakmu kok pinter sich.. ah.. ah.. ah.. terus sayang terus.. ahh akk.." tiba-tiba Dewi menjerit keenakan karena tiba-tiba jari tangan Anton masuk ke dalam vaginanya.
"Ahh.. ststt.. sayang.. kamu pinter ya.. ahh.. ahh.. Intaan.. kamu apain itilnyaa Mamaa? Akhh.. eestss.." Dewi semakin histeris ketika klitorisnya digosok-gosok oleh putrinya.
"Ton, sekarang kamu tengkurap dech!" kata Tony kepada putranya.
"Buat apaan Pap?"
"Udah deh kamu turutin aja. Nah sekarang coba kamu cium punya Mamamu, kaya kamu ciuman tadi sama Mama ya.."
"Hmm kayak gini Pap?"
Sambil berkata demikian Anton kemudian langsung mencium bibir bawah mamanya.
"Ough.. Ton.. stt.. ah.. ah.. enak banget sayang.." kata Dewi.
Karena tidak tahan menahan nikmat yang dirasakannya sekarang pahanya Dewi menjepit kepala anaknya sembari tangannya menjambak-jambak dengan penuh nafsu rambut putranya.

"Akkhh.. ough.. ough.. ha.. ah.. ah.. terus.. sayang.. terus.."
Anton yang semakin bernafsu terus menjilat dan menghisap seluruh kemaluan mamanya sembari tangannya terus mengocok-ngocok vagina mamanya dengan cepatnya.
"Ahh.. Pap.. anak kita cepat pintarnya.. yachh.. esstt.. Pap.." kata Dewi kepada suaminya.
Sementara itu Tony tidak memperdulikan ucapan istrinya dikarenakan ia sendiri sibuk mencium payudara istrinya sebelah kanan dan Intan menghisap-hisap di sebelah kiri. Mendapat rangsangan dari mana-mana Dewi makin tidak dapat menahan birahinya yang semakin lama semakin memuncak.
"Ahh.. Anton sayang.. Udah.. dulu ya.. udah.. Ton.. ampun.. estt.. ah.. ah.. ah.. udah dulu.. ya sayang.."
Dewi berusaha melepaskan kepala anaknya dari selangkanganya, tetapi tiba-tiba tangan Tony memegang dengan kuat tangan istrinya sementara kakinya juga ditumpangkan di atas paha Dewi agar istrinya tidak bergerak-gerak.
"Stt.. tahan ya sayang.. nikmatin aja ya.. Int coba kamu tahan tangan dan kaki Mamamu kayak Papa ini biar kakakmu tidak terganggu."

Akhirnya Dewi hanya bisa pasrah terlentang tidak dapat bergerak-gerak karena kedua tangannya dipegang oleh suami dan putrinya dan kakinya terkangkang dengan lebar karena ditarik ke kiri dan ke kanan oleh kaki suami dan putrinya.
"Oh.. oh.. akhh.. akhh.. Pap.. udah dulu Pap.. Mama.. estt.. ah.. hah udakhh nggak tahan nich Pap.. akhh.. akhh.. Anton.. ahh.. serrt.. sertt.." dan tanpa dapat ditahan lagi akhirnya Dewi menyemprotkan puncak kenikmatannya ke muka dan mulut putranya.
"Ahkhh.. khaa.. ahh.. Wah Mama jadi lemes nich gara-gara kalian semua," ucap Dewi sambil mengusap wajah dan tubuhnya yang telah basah karena terkena keringatnya sendiri dan keringat suami dan anak-anaknya.

Tak lama kemudian setelah Dewi beristirahat sebentar.
"Ton, sekarang giliran kamu yang mempraktekkan apa yang telah papa-mama ajarkan sama kamu ke adikmu, oke. Tapi sebelumnya biar Mama dulu yang melakukannya, agar Intan tidak menjadi tegang."
Kemudian Dewi mendekat ke arah putrinya dan secara perlahan baju tidur yang dikenakan oleh putrinya itu dibukanya.
"Hmm.. badanmu bagus juga ya nak.. Mama sampai tidak tahu kalau kamu punya badan seindah ini," ucap Dewi setelah melepas seluruh penutup tubuh dari putrinya itu.
Diperhatikannya tubuh anaknya yang putih itu, rupanya walaupun Intan masih berumur 15 tahun dan berbadan mungil tetapi payudara yang dimilikinya sudah cukup menonjol dengan puting susu yang berwarna kemerah-merahan, warna khas puting anak remaja, kemudian vaginanya yang bisa dibilang masih botak itu juga berwarna kemerah-merahan.
"Ahh.. Mama jangan gitu ah, kan Intan jadi malu," kata Intan sambil menutup dadanya yang telanjang itu.
"Eh, jangan ditutup gitu dong masa kamu malu sama keluarga sendiri," kata Tony sambil sesekali menelan air liurnya sendiri demi melihat tubuh telanjang putrinya dengan payudara mungilnya itu sementara itu bagian vaginanya masih terlihat mulus dengan dihiasi bulu-bulu halus yang baru mulai tumbuh itu.

"Hmm.. sini sayang!" panggil Dewi sambil mendekap erat putrinya Dewi mencium dengan lembut bibir putrinya.
"Hmm.. mmh.. mm.. ibu dan anak itu kemudian berciuman sambil mereka berbaring berpelukan seolah-olah mereka sedang memeluk guling, sehingga kedua susu dan vagina mereka saling bertemu dan bergesek-gesek sehingga menimbulkan kenikmatan tersendiri baik bagi Dewi maupun Intan.
"Ohh.. ahkhh.. oh.. estt.. stt, Mam Intan diapain nich Mam?" erang Intan keenakan karena sambil berbaring telentang mamanya menciumi leher dan kemudian perlahan-lahan menjilat-jilat payudaranya yang makin lama makin mengeras itu.
Dewi makin bernafsu menciumi payudara anaknya itu dan dengan matanya ia menyuruh Tony untuk mendekat dan mencium payudara anaknya yang satu lagi.
"Mmm.. mm.. ehh.. Pap.. estt.." tanpa sadar Intan memegang kepala kedua orang tuanya dan makin menekan ke arah dadanya.
"Ahh.. Mas Anton.. khaa.. mu.. lagi.. ngapain Mas? stt.." jerit Intan.
Rupanya tanpa sepengetahuan mereka diam-diam Anton menyorongkan mukanya ke arah vagina adiknya dan terus menjilat-jilat dengan penuh nafsu. Dihisapnya bibir luar vagina dan lidahnya menyapu seluruh bagian dalam dari vagina adiknya itu terutama pada bagian daging yang dirasakannya mulai makin menonjol (rupanya secara tidak sadar Anton menjilati klitoris adiknya) yang mana hal ini makin membuat Intan makin merintih keenakan.

"Intan coba kamu sekarang menungging deh!" ujar Dewi.
"Mama mau memberikan pelajaran baru kepada kakakmu."
Intan kemudian berganti posisi, sekarang ia dalam posisi menungging sehingga payudaranya tergantung ke bawah dan pantatnya yang putih itu terpampang dengan bebasnya.
"Ton, coba kamu sekarang liat apa yang Mama akan ajarkan kepadamu."
Kemudian Dewi memegang kedua belah pantat putrinya kemudian diremas dan dibuka belahan pantatnya itu sehingga lobang anus Intan mulai tampak merekah karena kulit pantatnya tertarik.
"Kamu lihat ini Ton, ini juga merupakan sumber kenikmatan baik bagi laki, apalagi bagi perempuan," kata Dewi sambil tetap menahan posisi pantat anaknya.
"Masa sih Mam?" tanya Anton tidak percaya.
"Hm.. baik kamu liat sekarang bagaimana reaksi adikmu ini," jawab Dewi dan Dewi pun kemudian menjulurkan lidahnya dan pelan-pelan mulai menyapu belahan pantat anaknya.
"Ahh.. Mam gelii Mam.. stt Mam ampun.. Mam.. stt.." jerit Intan kegelian berusaha menjauhkan pantatnya dari muka mamanya tetapi apa daya ia tidak dapat bergerak kemana-mana karena papanya menahan tubuhnya dengan memeluk punggungnya dari bawah tubuh Intan dengan posisi berlawanan sambil mulutnya mengisap-isap payudara anaknya.

"Oughh.. Mam.. udah.. Mam.. geli.. Mam.. estt.. ahh.." erang Intan karena sekarang lidah mamanya mulai masuk ke dalam lubang anusnya yang masih sempit itu. Dewi yang melihat anaknya merintih-rintih makin berafsu mengeluar-masukkan lidahnya ke dalam lubang anus anaknya itu dan dengan tangannya iapun menyuruh Anton untuk mulai menjilat vagina adiknya.
"Ahh.. estt.. enak Mas.. iiyaa.. estt Mas.. di situ.. Mas.. jilat terus.. Mas.. ah.. ah.. ah.. hmm.. stt stt.. terus.. Mas.." racau Intan demi menerima rangsangan dari seluruh keluarganya dimana mamanya terus mengocok lubang pantat, kakaknya menjilat-jilat seluruh bagian vaginanya dan papanya menyedot-nyedot pentil susunya yang terus meruncing itu.
"Hu.. hu.. ah.. udah dong dulu Mam, Intan udah nggak kuat nich.. aggh.. Pap, ammpun lepasin dulu.. dong.. Intan nggak tahan.. stt.. aghh.. aghh.. ah.."
"Agghh.. Mama.. Intan udah nggak tahan Mam.. Maamma.. aghh.. ah.. ah.. ah.. Serrtt.. serrtt," lalu mendorong dengan kuat bagian pantatnya ke arah muka kakak dan mamanya akhirnya Intan mengeluarkan air maninya ke arah muka kakaknya.
"Ahh.. ohh.. udah dulu Kak, Intan capek banget nih," kata Intan karena walaupun sudah tersiram cairan kenikmatan dari adiknya, Anton masih terus saja menjilat-jilat vagina adiknya sambil berusaha menghisap seluruh cairan yang ada pada adiknya itu.

Akhirnya merekapun semuanya berbaring kelelahan tetapi walau hal tersebut terasa melelahkan tetapi tampaknya penis dari Tony dan anaknya masih tetap mengacung dengan kerasnya.
"Bagaimana anak-anak, Mam udah capek belum? Kalau belum capek nanti Papa terusin pelajarannya."
"Pelajaran apa lagi Pap, bukannya udah cukup pelajaran yang kita kasih tadi?" tanya Dewi kebingungan kepada suaminya.
"Loh Mama ini gimana sich, ini kan baru pembukaanya saja belum kepelajaran inti beserta variasi-variasi," jawab Tony sambil tersenyum-senyum.
"Haa.. maksud Papa..?"

1 comment: